Sabtu, 21 Juli 2012

cerpen : Malaikat tanpa sayap


Malaikat  Tanpa Sayap..
Ombak memecah sunyinya malam. Aku terperangkap dalam kesunyian malam ini.
Malam ini bener bener membuat ketegangan ketegangan  memuncak. Aku bingung menghadapinya. Menghadapi hidup ini.
Terdengar suara piring pecah dan dentangan dentangan barang barang terpentalkan dari tembok.
Aku miris mendengarnya. Rasanya ingin aku pergi dari dunia ini.
Mereka hanya memperdulikan ego mereka masing masing. Tak memperdulikan orang disekitarnya bahkan anaknya sekalipun.
“Aku ini anak yg malang, malam malam tak bisa tidur karena tergangganggu dengan ributnya ocehan orang tuamu” kataku menggerutu pada adikku. “Ayah dan ibu itu mungkin hanya sementara bertengkarnya kak” lirih adikku meredam emosiku.
Tapi setidaknya ini sudah berjalan berbulan bulan. Tak juga kunjung redam masalahnya. Dan masalah yg di permasalahkan tetap saja hanya karena nafkah. Ibu menuntut yg tidak tidak kepada ayah.
Ibu tidak pernah puas dengan apa yang sudah diperoleh ayah. Selalu ingin itu dan apalah muak aku mendengarnya.
“Andi.. Ikal.. bangun,bangun..”  Ibu membangunkan aku dan adik disela sela tidur nyenyakku.
Deg! Aku nyesek liat muka' ibu yang memar kebiru biruan itu. "Haaa.. :O ibuk kenapa?" teriakku kaget melihat ibu dengan mataku yg masih sembab dan nyawaku yg belum ngumpul semua.
"Gak papa ndi.. Biasaa.. ayahmu salah paham" jawab ibu dengan nada menenangkanku.
Apa yang terjadii ini.. 13 tahun pernikahan ayah dan ibu hanya diisi penyiksaan sedikit sekali aku lihat keluarga ini bahagia. "Buk! Udah cukup ibuk disiksa kayak gini, Ibuk selalu nuntut ayah yg gini gitu lah! Ibuk.. ayah hanya beprofesi sebagai nelayan. Kalo buat nyukupin kebutuhan ibuk yg serba kayak di kota ya gak nyukup buk.." rintihku sambil mengusap air mata ibu dipipinya.
"Ibuk cuman pengen dibahagiain sama ayahmu, itu thok! Masak selama 13 tahun ibuk ga pernah yg namanya dibeliin sesuatu yg bagus bagus" sangkal ibuk kepadaku.
Aku pun hanya diam, sudahlah memang pemikiran ibuk emang beda denganku dan ayah.
Terlihat ayah sedang bersiap siap untuk pergi ke laut mencari ikan. "Yah, jangan kasar kasar sama ibuk" cetusku kepada ayah dengan mata berkaca kaca. Bruakkk!!!!!!! Ayah seketika membanting pancingnya dengan mata penuh emosi. "Kamu tau apa tentang ibu dan ayah. Jangan terus salahkan ayah, lihat ibumu itu gayanya sudah sok menjadi orang kaya, ga pernah ngertiin ayah yg hanya sebagai nelayan!" tuntas ayah kepadaku. "Tapi ga harus dengan kekerasan yah! bisa diomongin dengan baik baik. Ayah ga pernah ngertiin anak anaknya, kasian adek yah!" aku berlirih denagn air mata deras dipipi :"( berharap ayah bisa mengerti keluhan anaknya.
"Pak bahlul pak bahlulllllll.. " teriak dari arah depan rumah tetangga tetangga sedang ribut entah apa itu. "Pak, bu mala pak.." kata bu sumi penjual krupuk ikan samping rumah dengan tangan penuh darah. "Ada apa dengan istri saya?" tanya ayah dengan mata belo. "Ayok keluar saja yah.." ajakku sambil menyeret ayah  keluar. Terlihat didepan rumah ibuk terlihat penuh darah ditanganya. Hatiku hancur melihat ibuk dengan keadaan terkapar mata terpejam seolah tak bernyawa. Langsung ayah berlari menggotong ibuk ke rumah sakit. Rupanya ibuk bunuh diri mungkin karena tekanan batin dan ingin hidupnya tak susah.
2 jam ibuk diperiksa, kami semua panik. Entah harus bagaimana ini.
Dari tadi tak terlihat ayah diruang tunggu, kemana ayah?. Tiba tiba dokter memanggil kami untuk mengijinkan kami untuk menjenguk ibu kedalam ruang. "Ibumu terkena penyakit jantung, jantungnya kumat,  dan ibumu berusaha bunuh diri juga tapi alhamdhulillah ibumu selamat, ada orang baik yg mau mendonorkan jantungnya" "siapa? orang itu dokter?" dokter hanya diam dan memberikan sepucuk surat warna putih. Aku buka surat itu dan ternyata itu adalah surat dari ayah.
Aku langsung lemas dan tak percaya. Ayah yg mendonorkan jantungnya untuk ibuk.
Kini tertulis dibatu nisan Muhammad Bahlul lahir 23 mei 1970 Wafat  15 mei 2012.
"Ayahh.. maafkan ibuk" tangis ibuk didepan batu nisan kuburan ayah. Ayah malaikat penolong bagi ibu dan keluarga ini, aku sayang ayah.. Semoga ayah tidur nyenyak dalam tidur nyenyaknya.

3 komentar: